Entrepreneur

Mengapa tidak perawat merambah dunia bisnis? Perawat merupakan sebuah profesi yang multi talented. Ia bisa menjadi apapun. Tak terkecuali menjadi seorang entrepreneur. Perawatpun bisa gaul di dunia entrepreneur.

English For Nursing

Menghadapi persaingan global, perawat sudah seharusnya menguasai bahasa internasional untuk meningkatkan daya saing di mata dunia. Sehingga kita bisa bekerja dimanapun tanpa hambatan. Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu kendala perawat indonesia untuk bekerja di negeri orang adalah kendala akan bahasa.

Internet

Dunia kedua umat manusia saat ini. Menguasai internet berarti dunia dalam genggaman Anda. Globalisasi menyebabkan internet menjadi senjata nomor satu dan ampuh untuk berpromosi. Siap merambah dunia technopreneurship?

Politik

Tak dapat dipungkiri bahwa dunia politik merupakan dunia yang jarang di rambah oleh perawat. Bahkan ada ujar-ujar yang menyebutkan bahwa alasan belum disahkannya RUU Keperawatan saat ini dikarenakan tidak adanya perawat yang terjun di dunia politik. So, Perawatpun harus bisa bergaul di dunia politik.

Terapi Komplementer

Perawat adalah pelaku terapi komplementer selain dokter dan praktisi terapi. Mengingat sumber daya alam yang begitu melimpah, pantas rasanya jika kita memaksimalkan potensi yang masih jarang dijarah ini sebagai sebuah kompetensi yang harus dimiliki. Siapkah bergaul dengan alam?

Tuesday, 11 March 2014

Inilah Hakikat Seorang Perawat

Inilah Hakikat Seorang Perawat

Inilah Hakikat Seorang Perawat - Coretan seorangg perawat yang saya copy yuk dibaca...Dengan Bangga..Luruskan..!

Inilah Hakikat Seorang Perawat

Sudah tak asing lagi mendengar lontaran kalimat :

"Kok cuma jadi perawat sih, kenapa ga jadi dokter?",

"Dari dulu kok masih jadi perawat aja, kapan jadi dokternya?","sekolah lagi donk..biar jadi dokter!",

"Perawat itu pembantu dokter!”

Dan masih banyak bentuk kalimat yang similar dan pastinya juga dijumpai rekan-rekan perawat setanah air. So...apa yang kita lakukan?marah?kesal?uring-uringan?itu manusiawi..! Sikap terbaik saat mendengar kalimat tersebut, senyumlah, karena dengan senyum ketegangan otot dan suasana menjadi kendor.

Lalu apa lagi?

Jelaskan dengan perlahan, tegas dan sarat akan rasa bangga:

Perawat adalah suatu profesi sama halnya dengan dokter, bidan, pilot dan lain – lain. Jadi tidak bisa nabrak-nabrak. Sekolahnya sampai S3 tetap ilmu keperawatan meski diajarkan semua bidang ilmu kesehatan. Ilmunya dokter, ilmunya apoteker, ilmunya analis kesehatan, ilmunya radiologist, ilmunya fisioterapist, manajemen. Sehingga justru keperawatan lebih unggul dari profesi kesehatan lainnya.

Dokter punya spesialis. Perawat juga punya. Sayangnya bidan Cuma mentok di D3. So, apakah bidan lebih tinggi dari perawat?apakah dokter lebih tinggi dari perawat?

"Tapi perawat kerjanya ganti pampers, bersihin pup, mandiin..?"

Lho..salahkah?

Seorang ibu memandikan anaknya, mengganti pampersnya, mencebokinya, apakah
ini membuat sang ibu menjadi rendah?

Perawat memiliki badan ilmu yang tidak hanya berfokus pada penyakit. Tapi biopsikososio spiritual. Sangaaat care dengan kebutuhan pasiennya. Mengurusi pasien dari yang baru hadir ke dunia, sampai yang meninggalkan dunia, yang sakit dan yang sehat, setia saat sang pasien ditelantarkan keluarganya.

Lalu apa yang membuatnya menjadi rendah???

Gaji perawat lebih rendah dari dokter???

Bila membandingkan...harus pada level yang sama donk!
Kalau perawat di pelosok, bandingkan juga dengan tenaga medis lain di pelosok.

Alhamdulillaah, di tempat saya bekerja, gaji perawat S1 lebih tinggi
dari dokter S1. Mereka keberatan, demo. Tapi apa yang mau dituntut? Pimpinan setuju bahwa perawat yang lebih berisiko terpapar, berhak akan penghasilan ini. Pimpinan menyadari bahwasanya pekerjaan perawat jauh lebih banyak bahkan beban kerjanya jauh lebih tinggi, sehingga wajar bila remunerasi lebih tinggi.

Di tempat anda belum seperti ini? Ayo perjuangkan!!

Saat dinas di ruang VIP,hamper bosan saya menjelaskan. Tapi ya, tidak boleh bosan untuk membuka mata dunia: "ini loh Perawat!"

Maka lihatlah. Merekapun terpana. Hampir setiap orang yang saya jelaskan terpesona.

"Ooooo..perawat hebat ya?!"

Tak sedikit pasien atau keluarganya memanggil saya dengan sebutan "dokter". Saat diluruskan, "Saya bukan dokter. Saya perawat!". Mereka berkata: "tapi suster lebih pantes jadi dokter, suster lebih pinter dari dokter!". Lalu saya jawab: "oleh sebab saya lebih pinter dari dokter, gak mungkin donk saya dokter. Saya perawat. Perawat diajarkan lebih banyak hal daripada dokter. Jadi bukan hal aneh kalau kami lebih pintar!"

Tulisan ini saya persembahkan khusus tuk para junior. Semoga dapat menginspirasi. Jangan ragu
untuk menjelaskan "kehebatan"profesi kita. Luruskan dengan penuh kebanggaan!. Tentunya kita harus terus menerus meningkatkan kemampuan kognitif, psikomotor dan hubungan interpersonal
kita supaya memang layak untuk dibanggakan.

Kita belajar komunikasi terapeutik, sedang profesi kesehatan yang
Lain, komunikasi asertif saja tidak disentuh. So manfaatkan semua keunggulan kurikulum kita dan buat dunia ternganga dan berujar:

"Oooooo...jadi saya selama ini salah mempersepsikan perawat!"

Ayo lanjutkan perjuangan kita. Jangan bersedih hati dan jangan sampai putus asa.
Buktikan Firman Allah : "...boleh jadi orang yang diolok-olok lebih tinggi dari yang mengolok- olok"
(maaf ayatnya lupa).

Salaam..

Demikianlah artikel Inilah Hakikat Seorang Perawat. Semoga bermanfaat.

Enjoy Nursing!!!

Lho kok Mau Jadi Perawat???

Lho kok Mau Jadi Perawat??? - Pertanyaan tersebut sudah sangat sering saya dengar. Baik itu pertanyaan yang ditujukan kepada saya, ataupun teman saya. Sudah lebih dari 1 tahun saya menempuh pendidikan di Akademi Keperawatan, tapi sampai saat ini pun ketika saya punya adik kelas, jawaban dari mereka ketika saya tanyakan pertanyaan tersebut relative sama, BUKAN karena kemauan, BUKAN karena cita-cita ingin jadi perawat, MELAINKAN karena sebuah “KETERPAKSAAN”. Ya, sebuah keterpaksaan karena SNMPTN tidak lulus, gagal masuk Kepolisisan ataupun IPDN, yang akhirnya ketika masuk dunia keperawatan, bukan kebanggaan yang didapat tapi justru sebuah penyeselan.

Sungguh sangat ironi. Tapi saya berani bertaruh, tak ada satupun orang yang ketika SD ditanya oleh guru tentang cita-cita ada yang menjawab ingin jadi seorang PERAWAT. Profesi seperti Dokter, Polisi, Tentara, Pilot, Insinyur kala itu menjadi primadona dalam sebuah pemilihan cita-cita. Loh kenapa perawat tidak masuk hitungan???

Ini tentu menjadi sebuah pekerjaan kantor bagi kita khususnya yang bergelut dalam bidang keperawatan. Karena bila hal ini terus menerus jadi pekerjaan rumah, tidak akan selesai. Ini harus menjadi pekerjaan kantor yang harus selesai. Tentu kita akan sangat bangga jika suatu hari nanti murid TK dan SD akan menyatakan kalau mereka ingin jadi seorang perawat. Dan mungkin kualitas keperawatan Indonesia akan meningkat. Karena takkan ada lagi perawat yang dibangun atas keterpaksaan. Melainkan sebuah profesi yang dibangun atas cita-cita luhur anak adam yang masih suci.

Mungkin inilah yang menciptakan kesenjangan antara profesi dokter dan perawat. Karena dalam hal fondasi pun, perawat sudah ketinggalan jauh dari dokter. Tentu banyak dari kita yang ketika masih duduk di sekolah dasar bercita-cita ingin jadi dokter. Sebuah fondasi yang amat kuat karena ketika suatu saat cita-cita tersebut terwujud, akan menjadi sebuah istana yang amat megah dan kokoh. Berbeda dengan perawat yang sampai saat ini masih banyak dibangun dari sebuah “keterpaksaan”. Padahal jika kita jeli dan kritis, tentu banyak sekali keunggulan – keunggulan perawat dari profesi lain. Keunggulan yang hanya dimiliki seorang perawat.

Sedikit cerita, saya punya kawan Perawat yang berasal dari Philipines dan bekerja satu rumah sakit di Kuwait dia mantan seorang dokter specialis kebidanan di Phlipines dan yang bersangkutan rela meningggalkan profesinya dan kuliah sebagai perawat karena mereka menyadari benar dengan menjadi seorang Perawat yang bersangkutan dapat memiliki kesempatan untuk bekerja di Negara manapun dia inginkan. Dan itu hanya salah satu contoh, masih banyak cerita yang sama yang saya tidak bisa ceritakan satu persatu sekarang.

Inilah yang saya maksudkan dengan berfikir kritis dan jeli. Beliau - dokter yang menjadi perawat- rela meninggalkan profesi kedokterannya demi menjadi seorang perawat karena Beliau tahu akan kelebihan dan keunggulan perawat disbanding profesi – profesi lain. Contoh kecilnya, bisakah seorang dokter mengerjakan tindakan keperawatan?. Tentu tidak. Ia harus menempuh dahulu pendidikan keperawatan sebelum akhirnya menjadi seorang perawat. Tapi coba kita balik, bisakah perawat mengerjakan tindakan medis?. Silahkan jawab sendiri – sendiri, karena sekarang ini perawat lebih senang melakukan tindakan medis yang dianggapnya lebih menantang dan extreme ketimbang melakukan tindakan keprawatan yang dianggapnya tidak penting. Bahkan jika kita kaji lebih jauh, seorang perawat mampu merambah profesi – profesi lain yang tak kalah popular dari dokter, semisal ahli IT, Politikus, Atlet, Entrepreneur, Penulis tanpa hambatan apapun. Tapi coba kita balik, bisakah mereka melakukan praktik keperawatan?. Jelas tidak bisa karena keahlian keperawatan harus dengan keahlian yang spesifik.


Bagaimana, masih menyesalkah jadi seorang Perawat???

Sunday, 9 March 2014

Perawat, Visite Dokter dan Tindakan Keperawatan

Perawat, Visite Dokter dan Tindakan Keperawatan - Visite merupakan kegiatan mengunjungi pasien yang dilakukan oleh dokter. Ketika saya sedang PBK ( Praktik Belajar Klinik ) di salah satu rumah sakit di daerah saya, kunjungan ini begitu menarik perhatian saya. Mengapa tidak?. Hampir semua perawat yang ada di ruang perawatan jadi salah tingkah bila kedatangan dokter. Salah tingkah disini maksudnya ketika sedang santai, tindakan sudah beres, kita sebagai mahasiswa biasanya melihat RM pasien untuk mengisi buku PBK yang diberikan oleh institusi. Begitupun dengan perawat. Mereka ada yang buka situs-situs itnternetlah, sibuk dengan handphone nya lah, ngobrol sana sini lah. Pokonya macam-macam. Tapi kegiatan itu sirna begitu saja begitu "Sang Dokter" datang. Ada yang merapihkan baju, kerudung, RM pasien dan ada juga yang menyapa dokter dan memberikan tempat duduk. Sebuah kegiatan yang menurut saya pribadi tidak perlu. Kita adalah mitra dokter. BUKAN PEMBANTU DOKTER!.

Tidak hanya sampai disitu, kesan pembantu dokter pun begitu melekat ketika perawat mendampingi dokter mengunjungi pasien dengan hanya mengikuti instruksi dokter. Menyediakan tempat duduk untuk dokter saat visite ke pasien seolah menjadi sebuah kewajiban dan ada dalam SOP perawat. Perawatpun menuliskan kembali resep yang diberikan dokter dengan sekali-kali menanyakan tulisan resep yang tidak begitu dimengertinya karena font tulisan yang digunakan dokter adalah "times new rowman" gaya klasik dengan variasi bold italic. Mungkin jika Anda seorang perawat, Anda pasti mengerti keadaan ini. Anda hanya mengikuti dokter, menyediakan tempat duduk untuk dokter disamping pasien, menuliskan resep untuk pasien, TANPA sedikitpun berkontribusi untuk penyelesaian masalah pasien. Bukankah akan lebih baik jika anda melakukan tindakan mandiri keperawatan kepada pasien?. Mari kita hitung. Dalam sehari, berapa perbandingan antara tindakan kolaborasi dan tindakan mandiri keperawatan yang dilakukan oleh perawat di rumah sakit?. Saya tidak perlu menjawabnya. Silahkan jawab masing-masing.

Bahkan jika kita gali lebih dalam lagi, seberapa jauhkah perawat mengerti akan keadaan pasien seutuhnya?. Toh untuk sekedar mengukur TTV ( Tanda Tanda Vital ) pun diluaran sana masih banyak yang menggunakan "kekuatan fikiran" mereka dengan menebak-nebak hasil TTV tanpa sedikitpun menyentuh pasien. Juga seberapa persenkah total perawat yang melakukan pemeriksaan fisik pada pasien?. Dan lagi-lagi ini pun dilakukan dengan hanya menggunakan "kekuatan fikiran" untuk mengetahui keadaan pasien. Istilah ritual kegiatannya "Ngabeundeul".

Ya memang benar, jika sudah bertahun-tahun di rumah sakit kita juga jadi lebih tahu karakteristik dari suatu penyakit. Tapi, bukankah ilmu keperawatan mengajarkan bahwa manusia itu makhluk yang unik? ataukah sudah termakan zaman dan digantikan dengan "ilmu kekuatan fikiran" dari negeri antah berantah??? Wallahu a'lam...