Sunday, 9 March 2014

Perawat, Visite Dokter dan Tindakan Keperawatan

Perawat, Visite Dokter dan Tindakan Keperawatan - Visite merupakan kegiatan mengunjungi pasien yang dilakukan oleh dokter. Ketika saya sedang PBK ( Praktik Belajar Klinik ) di salah satu rumah sakit di daerah saya, kunjungan ini begitu menarik perhatian saya. Mengapa tidak?. Hampir semua perawat yang ada di ruang perawatan jadi salah tingkah bila kedatangan dokter. Salah tingkah disini maksudnya ketika sedang santai, tindakan sudah beres, kita sebagai mahasiswa biasanya melihat RM pasien untuk mengisi buku PBK yang diberikan oleh institusi. Begitupun dengan perawat. Mereka ada yang buka situs-situs itnternetlah, sibuk dengan handphone nya lah, ngobrol sana sini lah. Pokonya macam-macam. Tapi kegiatan itu sirna begitu saja begitu "Sang Dokter" datang. Ada yang merapihkan baju, kerudung, RM pasien dan ada juga yang menyapa dokter dan memberikan tempat duduk. Sebuah kegiatan yang menurut saya pribadi tidak perlu. Kita adalah mitra dokter. BUKAN PEMBANTU DOKTER!.

Tidak hanya sampai disitu, kesan pembantu dokter pun begitu melekat ketika perawat mendampingi dokter mengunjungi pasien dengan hanya mengikuti instruksi dokter. Menyediakan tempat duduk untuk dokter saat visite ke pasien seolah menjadi sebuah kewajiban dan ada dalam SOP perawat. Perawatpun menuliskan kembali resep yang diberikan dokter dengan sekali-kali menanyakan tulisan resep yang tidak begitu dimengertinya karena font tulisan yang digunakan dokter adalah "times new rowman" gaya klasik dengan variasi bold italic. Mungkin jika Anda seorang perawat, Anda pasti mengerti keadaan ini. Anda hanya mengikuti dokter, menyediakan tempat duduk untuk dokter disamping pasien, menuliskan resep untuk pasien, TANPA sedikitpun berkontribusi untuk penyelesaian masalah pasien. Bukankah akan lebih baik jika anda melakukan tindakan mandiri keperawatan kepada pasien?. Mari kita hitung. Dalam sehari, berapa perbandingan antara tindakan kolaborasi dan tindakan mandiri keperawatan yang dilakukan oleh perawat di rumah sakit?. Saya tidak perlu menjawabnya. Silahkan jawab masing-masing.

Bahkan jika kita gali lebih dalam lagi, seberapa jauhkah perawat mengerti akan keadaan pasien seutuhnya?. Toh untuk sekedar mengukur TTV ( Tanda Tanda Vital ) pun diluaran sana masih banyak yang menggunakan "kekuatan fikiran" mereka dengan menebak-nebak hasil TTV tanpa sedikitpun menyentuh pasien. Juga seberapa persenkah total perawat yang melakukan pemeriksaan fisik pada pasien?. Dan lagi-lagi ini pun dilakukan dengan hanya menggunakan "kekuatan fikiran" untuk mengetahui keadaan pasien. Istilah ritual kegiatannya "Ngabeundeul".

Ya memang benar, jika sudah bertahun-tahun di rumah sakit kita juga jadi lebih tahu karakteristik dari suatu penyakit. Tapi, bukankah ilmu keperawatan mengajarkan bahwa manusia itu makhluk yang unik? ataukah sudah termakan zaman dan digantikan dengan "ilmu kekuatan fikiran" dari negeri antah berantah??? Wallahu a'lam...

1 comments

Post a Comment