Tuesday, 11 March 2014

Lho kok Mau Jadi Perawat???

Lho kok Mau Jadi Perawat??? - Pertanyaan tersebut sudah sangat sering saya dengar. Baik itu pertanyaan yang ditujukan kepada saya, ataupun teman saya. Sudah lebih dari 1 tahun saya menempuh pendidikan di Akademi Keperawatan, tapi sampai saat ini pun ketika saya punya adik kelas, jawaban dari mereka ketika saya tanyakan pertanyaan tersebut relative sama, BUKAN karena kemauan, BUKAN karena cita-cita ingin jadi perawat, MELAINKAN karena sebuah “KETERPAKSAAN”. Ya, sebuah keterpaksaan karena SNMPTN tidak lulus, gagal masuk Kepolisisan ataupun IPDN, yang akhirnya ketika masuk dunia keperawatan, bukan kebanggaan yang didapat tapi justru sebuah penyeselan.

Sungguh sangat ironi. Tapi saya berani bertaruh, tak ada satupun orang yang ketika SD ditanya oleh guru tentang cita-cita ada yang menjawab ingin jadi seorang PERAWAT. Profesi seperti Dokter, Polisi, Tentara, Pilot, Insinyur kala itu menjadi primadona dalam sebuah pemilihan cita-cita. Loh kenapa perawat tidak masuk hitungan???

Ini tentu menjadi sebuah pekerjaan kantor bagi kita khususnya yang bergelut dalam bidang keperawatan. Karena bila hal ini terus menerus jadi pekerjaan rumah, tidak akan selesai. Ini harus menjadi pekerjaan kantor yang harus selesai. Tentu kita akan sangat bangga jika suatu hari nanti murid TK dan SD akan menyatakan kalau mereka ingin jadi seorang perawat. Dan mungkin kualitas keperawatan Indonesia akan meningkat. Karena takkan ada lagi perawat yang dibangun atas keterpaksaan. Melainkan sebuah profesi yang dibangun atas cita-cita luhur anak adam yang masih suci.

Mungkin inilah yang menciptakan kesenjangan antara profesi dokter dan perawat. Karena dalam hal fondasi pun, perawat sudah ketinggalan jauh dari dokter. Tentu banyak dari kita yang ketika masih duduk di sekolah dasar bercita-cita ingin jadi dokter. Sebuah fondasi yang amat kuat karena ketika suatu saat cita-cita tersebut terwujud, akan menjadi sebuah istana yang amat megah dan kokoh. Berbeda dengan perawat yang sampai saat ini masih banyak dibangun dari sebuah “keterpaksaan”. Padahal jika kita jeli dan kritis, tentu banyak sekali keunggulan – keunggulan perawat dari profesi lain. Keunggulan yang hanya dimiliki seorang perawat.

Sedikit cerita, saya punya kawan Perawat yang berasal dari Philipines dan bekerja satu rumah sakit di Kuwait dia mantan seorang dokter specialis kebidanan di Phlipines dan yang bersangkutan rela meningggalkan profesinya dan kuliah sebagai perawat karena mereka menyadari benar dengan menjadi seorang Perawat yang bersangkutan dapat memiliki kesempatan untuk bekerja di Negara manapun dia inginkan. Dan itu hanya salah satu contoh, masih banyak cerita yang sama yang saya tidak bisa ceritakan satu persatu sekarang.

Inilah yang saya maksudkan dengan berfikir kritis dan jeli. Beliau - dokter yang menjadi perawat- rela meninggalkan profesi kedokterannya demi menjadi seorang perawat karena Beliau tahu akan kelebihan dan keunggulan perawat disbanding profesi – profesi lain. Contoh kecilnya, bisakah seorang dokter mengerjakan tindakan keperawatan?. Tentu tidak. Ia harus menempuh dahulu pendidikan keperawatan sebelum akhirnya menjadi seorang perawat. Tapi coba kita balik, bisakah perawat mengerjakan tindakan medis?. Silahkan jawab sendiri – sendiri, karena sekarang ini perawat lebih senang melakukan tindakan medis yang dianggapnya lebih menantang dan extreme ketimbang melakukan tindakan keprawatan yang dianggapnya tidak penting. Bahkan jika kita kaji lebih jauh, seorang perawat mampu merambah profesi – profesi lain yang tak kalah popular dari dokter, semisal ahli IT, Politikus, Atlet, Entrepreneur, Penulis tanpa hambatan apapun. Tapi coba kita balik, bisakah mereka melakukan praktik keperawatan?. Jelas tidak bisa karena keahlian keperawatan harus dengan keahlian yang spesifik.


Bagaimana, masih menyesalkah jadi seorang Perawat???

1 comments

Post a Comment